#MATERIALAnakArsi

Bata Merah

Bata tanah liat bakar, material dinding pengisi paling lama dipakai di Indonesia.

Rp900 – Rp1.800

Dinding

Bata Merah

Disebut juga: bata tanah liat · bata konvensional

buah

Rp900 – Rp1.800 / buah

Kisaran pasar Jabodetabek Diperbarui Sep 2026

Angka ini perkiraan pasar untuk estimasi awal, bukan penawaran resmi. Harga sebenarnya berbeda menurut mutu, volume, dan wilayah.

Deskripsi

Bata merah dibuat dari tanah liat yang dicetak lalu dibakar pada suhu tinggi hingga mengeras. Di Indonesia ia masih jadi material dinding pengisi yang paling banyak dipakai, terutama pada bangunan rendah, karena bahan bakunya tersedia hampir di mana-mana dan tukang di lapangan sudah sangat terbiasa memasangnya.

Ukurannya tidak seragam antarprodusen karena umumnya dicetak pada skala industri kecil. Perbedaan ini berpengaruh langsung pada kebutuhan adukan dan ketebalan plesteran.

Lapisan & susunan

Dinding bata merah pada umumnya tersusun dari, dari dalam ke luar:

  • Lapisan cat atau pelapis akhir
  • Acian semen, tebal 2–3 mm
  • Plesteran, tebal 15–20 mm
  • Pasangan bata dengan spesi adukan 10–20 mm
  • Plesteran dan acian pada sisi sebaliknya

Pada dinding yang berhadapan dengan air — kamar mandi, dinding luar bagian bawah — ditambahkan lapisan kedap air (trasram) setinggi minimal 20 cm dari lantai.

Detail Konstruksi & Pemasangan

Tanah liat digali, dibersihkan dari kerikil dan akar, lalu dicampur air dan diuleni hingga plastis. Adonan dicetak dalam cetakan kayu atau mesin, kemudian dikeringkan dengan angin selama beberapa hari sampai kadar airnya turun.

Bata kering lalu disusun dalam tungku dan dibakar pada suhu sekitar 800–1.000 °C selama belasan hingga puluhan jam. Pembakaran inilah yang menentukan mutu: bata yang kurang matang mudah rapuh dan menyerap air berlebihan, sedangkan yang terlalu matang bisa melengkung dan pecah.

Proses pemasangan

Bata direndam atau disiram air terlebih dahulu supaya tidak menyerap air dari adukan, yang akan membuat spesi cepat kering dan lemah.

  1. Pasang profil dan benang acuan untuk menjaga ketegakan dan kerataan.
  2. Susun bata dengan pola selang-seling agar siar vertikal tidak segaris.
  3. Isi adukan pada seluruh permukaan sambungan, tebal 10–20 mm.
  4. Batasi tinggi pasangan maksimal sekitar 1 meter per hari agar adukan di bawah sempat mengeras.
  5. Pasang kolom praktis dan balok latei sesuai bentang dinding.
  6. Diamkan beberapa hari sebelum diplester.

Kelebihan

  • Tersedia luas dan harganya murah per satuan
  • Tahan api dengan baik
  • Massa besar sehingga meredam suara dan panas cukup baik
  • Tukang di seluruh Indonesia sudah terbiasa memasangnya
  • Mudah dipotong dan disesuaikan di lapangan

Kekurangan

  • Ukuran tidak seragam sehingga boros plesteran
  • Bobotnya berat, menambah beban struktur
  • Pemasangan lambat karena satuannya kecil
  • Mutu sangat bergantung pembakaran dan sulit dijamin
  • Banyak sisa pecahan dan adukan terbuang

Perawatan

Dinding bata yang sudah diplester praktis tidak perlu perawatan khusus. Yang perlu diperhatikan adalah retak rambut pada plesteran, yang umumnya muncul akibat penyusutan dan bukan masalah struktural — cukup ditutup dengan dempul lalu dicat ulang.

Rembesan dari bawah menandakan lapisan kedap air gagal atau tidak ada, dan harus ditangani dari sumbernya, bukan sekadar ditutup cat pelapis.

Vendor yang memasok

Semua vendor →

Belum ada vendor yang tercatat untuk material ini. Punya rekomendasi vendor?

Material terkait